Kontak Bahasa Picu Terjadinya Konflik Di Masyarakat [GUEST POST]

Beritahu yang lain

Indonesia merupakan Negara berbentuk Republik dengan letak geografis berada di antara dua Benua yakni Asia dan Australia, dan dua Samudera yakni Hindia dan Pasifik. Hal tersebut, menjadikan posisi wilayah Indonesia tersebar menjadi beribu-ribu pulau yang dibatasi oleh perairan.

Akibatnya, masyarakat Indonesia masuk dalam kategori masyarakat heterogen. Masyarakat heterogen ditandai dengan adanya berjuta suku bangsa, bahasa, dan adat istiadat yang berbeda pada tiap daerah. Bahasa adalah hal yang paling mencolok memperlihatkan perbedaan di antara masyarakat.

Bahasa merupakan identitas atau ciri yang dimiliki suatu bangsa maupun daerah. Melalui bahasa, individu maupun sekelompok masyarakat dapat dikenali sifat dan perilakunya. Manusia merupakan mahluk sosial, maka mau tidak mau ia akan hidup berdampingan dan memerlukan orang lain.

Akibatnya, mereka harus berinteraksi dan melakukan kontak antara satu dengan yang lain. Apabila dua penutur atau lebih yang memiliki latar belakang budaya berbeda berinteraksi dan menggunakan bahasanya masing-masing, maka akan terjadi kontak bahasa.

Dari kontak tersebut, sering terjadi kesalahpahaman antar dua penutur karena tidak mengerti bahasa satu sama lain. Menurut Mesthrie (2009:199) penggunaan gaya interaksi yang berbeda dapat menyebabkan masalah komunikasi. Banyak studi mengenai interaksi yang menyelidiki konteks di mana berbicara dari latar belakang budaya yang berbeda, dapat menimbulkan ‘miskomunikasi’ atau juga bisa disebut ‘mispresepsi pembicara’ (Mesthrie, 2009:213).

Kontak bahasa seringkali terjadi pada masyarakat Kuta yang selalu bertemu dengan wisatawan dari berbagai daerah dan mancanegara. Kuta merupakan daerah yang terkenal dengan pariwisatanya berupa pantai. Oleh karena itu, daerah ini selalu ramai di datangi para wisatawan.

Meskipun saat ini sektor pariwisata daerah Kuta dan seluruh tempat yang ada di Bali masih dibatasi jumlah pengunjungnya sebagai akibat dari pandemi Covid-19.

Masyarakat yang tinggal di daerah kuta banyak yang berprofesi sebagai pedagang. Namun tak jarang, banyak juga pendatang baru yangberasal dari berbagai daerah juga berprofesi sebagai pedagang disana.



Masyarakat yang berprofesi sebagai pedagang ini, mau tidak mau akan berinteraksi dengan wisatawan dari daerah lain untuk menawarkan jualannya dan melakukan kegiatan jual beli.

Wisatawan yang merupakan mitra tutur, memiliki bahasa yang berbeda dengan para pedagang Bali. Wisatawan memiliki bahasa asli daerah mereka , sedangkan para pedagang juga menggunakan bahasa daerah mereka.

Akibatnya, misskomunikasi dan misspresepsi sering kali terjadi. Masalah yang kerap terjadi adalah ketika masyarakat yang berasal dari dua daerah memiliki satu diksi bahasa yang sama dengan arti dan makna yang berbeda. Seperti yang kerap terjadi pada masyarakat suku Jawa dan Bali yang letak wilayahnya bersebrangan.

Kontak Bahasa 2

Terdapat banyak bahasa Bali yang memiliki diksi sama dengan bahasa Jawa. Seperti kata ‘budal’ yang dalam bahasa Bali memiliki arti ‘pulang’ sementara dalam bahasa Jawa kata ‘budal’ berarti berangkat.

Baca Juga:  Foto Mantan Mengganggu? Fotografer Ini Mungkin Bisa Membantu

Apabila kedua penutur memahami diksi sesuai makna dari bahasanya masing-masing, akan terjadi misspresepsi yang dampaknya bisa mencapai konflik di antara masyarakat penutur.

Tidak hanya itu, nama buah juga kerap kali sama, namun dengan bentuk yang berbeda. Buah Gedang dalam masyarakat Jawa adalah Pisang. Sedangkan pada masyarakat Bali berarti Pepaya.

Untuk mengatasi dan menghindari konflik yang berkepanjangan, masyarakat antar daerah harus memakai bahasa penghubung yang sama-sama dimengerti dengan pemahaman yang sama.

Bahasa penghubung yang digunakan oleh dua penutur yang berbeda disebut ligua franca. Variasi bahasa sebagai lingua franca yang digunakan pada saat itu, tidak akan menghilangkan bahasa asli para penutur.

Menurut Mesthrie (2009:258) varian bahasa baru dapat dibuat tanpa mengganggu sumber daya linguistik yang ada, keafsihan, dan kesetiaan penutur terhadap bahasa asli mereka. Artinya, suatu kontak bahasa yang melahirkan bahasa baru tidak memiliki pengaruh terhadap bahasa asli penutur –penutur tersebut.



Bahasa penghubung atau lingua franca akan melahirkan bahasa baru sebagai akibat dari pencampuran dua atau tiga bahasa penutur. Bahasa yang lahir atas dasar kontak bahasa disebut pidgin dan kreol.

Pidgin merupakan sebuah bahasa variasi yang tidak terlalu kompleks secara linguistik dan digunakan secara terbatas untuk domain sosial dan atau interpersonal. Sedangkan kreol adalah sebuah pidgin yang memiliki penutur asli (Meyerhoff, 2006:248). Menurut Meyerhoff (2006:248) pidgin dan kreol dibedakan atas cara mereka dipelajari, dengan pidgin yang didefinisikan sebagai bahasa kontak yang bukan bahasa pertama siapapun, dan kreol yang memiliki penutur asli.

Wisatawan yang berasal dari dalam daerah, menggunakan lingua franca yaitu bahasa nasional untuk berinteraksi dengan pedagang. Begitu juga sebaliknya. Namun, bahasa Indonesia yang digunakan bukan bahasa Indonesia baku seperti yang ada pada Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Mereka menggunakan Bahasa Indonesia yang tercampur-campur dengan bahasa asli daerah mereka. Wisatawan yang berasal dari daerah Jawa yang jika bertanya mengenai harga mereka bertanya dengan kalimat “iki berapa?” yang merupakan gabungan dari bahasa Indonesia yang tercampur dengan bahasa asli mereka.

Wisatawan yang ada di Kuta Bali, tidak hanya berasal dari dalam negeri saja. Kuta seringkali menjadi destinasi wisata oleh wisatawan mancanegara yang dikenal dengan turis.

Baca Juga:  Review Summerland Lippo Mall Kuta. Liburan Aktif Bareng Si Kecil?

Seperti halnya konflik yang terjadi antara pedagang dan wisatawan lokal, kondisi yang sama juga terjadi saat para pedagang menawarkan dagangannya atau melakukan kegiatan jual beli dengan para turis.

Jika pedagang melakukan jual beli dengan bahasa nasional atau bahasa Indonesia sebagai lingua franca seperti yang diterapkan pada wisatawan lokal, maka konflik bahasa akan tetap terjadi.

Bahasa pidgin sebagai lingua franca harus diterapkan pada mitra tutur yang sesuai agar tidak terjadi misspresepsi. Seringkali pedagang menawarkan jualannya kepada turis tetapi mereka tidak bisa memahami. Begitu juga dengan turis yang ketika ingin membeli sesuatu, pedagang tidak bisa memahami.



Alternatifnya, mereka menggunakan bahasa isyarat sebagai bahasa pidgin yang menghubungkan keduanya. Pedagang menawarkan air atau segala bentuk minuman dengan memperagakan dirinya seperti orang sedang minum.

Begitu juga dengan turis yang jika ingin membeli minum memperagakan hal yang sama. Untuk menjawab harga, pedagang bisa menggunakan jarinya untuk menunjukkan jumlah yang harus dibayar.

Nyatanya, bahasa pidgin yang digunakan efektif dan saling dimengerti oleh keduanya. Sehingga, kontak bahasa antara pedagang dan wisatawan mancanegara dapat berjalan dengan baik.

Lain halnya dengan beberapa pedagang yang memiliki sedikit kemampuan berbahasa Inggris sebagai bahasa Internasional. Mereka berineraksi menggunakan bahasa pidgin lain yaitu bahasa Inggris yang tidak sesuai sintaksis penggunaan bahasa Inggris.

Mereka melafalkannya kosa kata dalam bahasa Inggris secara terbalik-balik dan menggunakan dialek asli mereka. Meskipun begitu, turis yang paham akan bahasa Inggris tetap mengerti apa yang dimaksud oleh pedagang. Sehingga komunikasi dapat berjalan dengan lancar.



Bahasa pidgin yang diciptakan dan digunakan terus menerus dalam kurun waktu yang panjang lalu memiliki penutur akan menjadi bahasa kreol. Bahasa kreol memiliki dampak tidak baik karena menimbulkan konflik bahasa.

Bahasa kreol akan sering terdengar dan diserap dengan baik oleh anak-anak yang tinggal pada daerah tersebut. Akibatnya, bahasa kreol ini menjadi bahasa pertama mereka.

Padahal seharusnya bahasa pertama mereka adalah bahasa daerah mereka. Namun karena terlalu sering mendengarkan orang-orang di sekitarnya maka mereka menggunakan bahasa kreol. Pergerseran bahasa sudah sangat jelas terjadi, karena anak-anak bahkan tidak mengerti bahasa asli daerahnya.

Daftar Acuan
Meyerhoff, M. 2006. Introducting Sociolinguistics. London and New York: Routledge.
Mesthrie, R. dkk. 2009. Introducting Sociolinguistics. Edinburgh: Edinburgh University Press.

Karya Ilmiah ini dimuat di Tanda Koma dan merupakan hasil karya dari:

Dinda Ayu Febrika & Siti Lailatul Fitria

Mahasiswi universitas negeri surabaya

Beritahu yang lain

Leave a Reply

Your email address will not be published.